Ketiga: negara hadir terutama setelah bencana, bukan sebelum bencana. Kita memiliki kapasitas respon yang kuat BNPB sigap, relawan bergerak cepat, warga bergotong royong. Tetapi kita masih lemah dalam mencegah bencana terjadi. Negara sering bekerja keras ketika rumah sudah hancur, bukan ketika peta risiko sudah dibuat. Kita lebih sering merawat luka dari pada mencegahnya.
Di Persimpangan Alam dan Kekuasaan
Sebenarnya, hubungan manusia dan alam selalu melibatkan kekuasaan, bukan hanya kekuasaan negara, tetapi juga kekuasaan ekonomi. Kala izin lebih mudah diterbitkan daripada kajian lingkungan diselesaikan, ketika keuntungan jangka pendek lebih menarik daripada keberlanjutan jangka panjang, ketika sungai dan gunung dipandang sebagai ‘aset’ bukan sistem hidup, di sanalah bencana menjadi sebuah keniscayaan. Filsuf-filsuf Islam sudah lama membahas hal tersebut. Ibn Khaldun menulis bahwa kerusakan negeri bermula dari kerakusan penguasanya. Al-Ghazali mengingatkan bahwa rusaknya kepemimpinan berarti rusaknya tatanan alam dan masyarakat. Hossein Nasr menyebut bahwa krisis ekologi modern adalah krisis spiritual, kita kehilangan kesadaran bahwa alam bukan benda mati, melainkan tanda-tanda Tuhan. Semua pemikiran ini mengarahpada kesimpulan sederhana, bahwa kerusakan alam tidak pernah murni teknis, bahkan terlalu politis.













