Di level sosiologis, pembacaan kontemporer ini juga menyatu dengan perspektif klasik para pengamat Barat. Snouck Hurgronje dalam karyanya Het Gayoland en zijne Bewoners (Batavia: Landsdrukkerij, 1903, hlm. 112) pernah memetakan bagaimana ritual keagamaan lokal selalu berkelindan erat dengan struktur kekuasaan pragmatis. Hal ini dipertegas oleh kajian B.J.O. Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies: Selected Writings (The Hague: W. van Hoeve, 1955, hlm. 73) serta tulisan Carl Heinrich Becker, Islamstudien: Vom Werden und Wesen der islamischen Welt (Leipzig: Quelle & Meyer, 1924, hlm. 150), yang menegaskan bahwa Islam dalam realitas sosial senantiasa lentur beradaptasi dengan sistem politik tempatnya tumbuh.
Bahkan jika dirunut ke literatur klasik Arab, realitas sosiologis ini selaras dengan nasihat politik Ibn Khaldun dalam Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr, 1988, hlm. 240) tentang pentingnya ‘ashabiyyah (solidaritas sosial) dan legitimasi keagamaan dalam memperkokoh kekuasaan kekhalifahan maupun kepemimpinan politik.













