Namun, memasuki era kepemimpinan Prabowo Subianto, wajah Islam politik mengalami metamorfosis yang cerdik. Prabowo berhasil merangkul kekuatan konservatif sekaligus moderat melalui politik akomodasi yang lebih merangkul. Di akar rumput, narasi Islam tak lagi bergesekan keras dengan negara, melainkan dilebur ke dalam populisme sejahtera—sebuah strategi yang menggabungkan kesalehan ritual dengan bantuan sosial nyata.
Secara ilmiah, fenomena ini menunjukkan bagaimana agama di Indonesia terus bertransformasi menjadi modal politik yang sangat adaptif. Dalam pandangan Martin van Bruinessen pada Contemporary Developments in Indonesian Islam: Explaining the Conservative Turn (Singapore: ISEAS Publishing, 2013, hlm. 88), komodifikasi nilai-nilai Islam dalam ranah publik bukan hal baru, tetapi arah penyalurannya sangat ditentukan oleh siapa yang memegang kendali kekuasaan.













