2. Daya Saing dan Infrastruktur Pasca-Tangkap yang rendah
Rendahnya kualitas hasil tangkapan menyebabkan tuna Indonesia sulit bersaing di pasar global. Pasar utama seperti Jepang mengutamakan sashimi-grade tuna, yang memerlukan penanganan pasca-tangkap dengan standar tinggi. Sebagai contoh, Jepang dan Australia mampu mengelola tuna sirip biru sebagai produk premium melalui fasilitas pemrosesan modern yang dekat dengan wilayah tangkapan (WWF, 2023). Indonesia, di sisi lain, menghadapi tantangan logistik dan infrastruktur yang memengaruhi kualitas produk hingga tiba di pasar internasional.
3. Regulasi yang Kurang Mendukung
Regulasi perikanan Indonesia masih terfokus pada pengelolaan wilayah perairan yurisdiksi nasional Indonesia, sementara strategi untuk memanfaatkan wilayah laut lepas belum terkoordinasi dengan baik. Keterbatasan diplomasi maritim juga mengurangi kemampuan Indonesia dalam memperoleh kuota yang lebih besar di CCSBT. Pemerintah perlu mengadopsi pendekatan berbasis data dalam menentukan kebijakan tangkap, seperti yang dilakukan Australia melalui penghitungan stok berbasis sains.












