Pada faktanya tidak sedikit lulusan pesantren tidak sesuai dengan harapan orang tuanya, terlebih menjadi kebanggaan Islam, yaitu sebagai generasi yang terpanggil melakukan amar makruf nahyi munkar, menolak peradaban Barat yang merusak serta menyerukan tegaknya syariah kaffah agar kaum Muslimin kembali jaya dan mulia. Individu santri terjebak oleh kepentingan yang bersifat individual, sudah lulus dapat kerja, tidak usah pusing-pusing memikirkan nasib bangsa, nasib umat. Tidak kritis terhadap penjajahan yang sedang berlangsung, baik penjajahan ekonomi, budaya dan politik.
Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya karena Indonesia menerapkan sistem kapitalisme sekular. Kapitalisme menjungjung tinggi kebahagiaan yang bersifat materi. Berdaya dan berdaya saing semata-mata ditujukan dalam rangka mendapatkan materi. Padahal pesantren adalah lembaga pendidikan, tempat para santri menimba ilmu menjadi para ulama hebat. Tidak salah memang jika di pesantren anak diajarkan cara bermuamalah yang benar sesuai pandangan Islam misalnya, bukan lantas jadi tempat pemberdayaan ekonomi sehingga menyita waktu belajar. Di bawah pengaruh kapitalisme bukan tidak mungkin menimba ilmu teralihkan pada materi.













