Lihat Ashabul Kahfi. Mereka tidak menyelamatkan iman dengan membuat grup diskusi dari gua berbeda. Mereka berkumpul, bermusyawarah, lalu beruzlah bersama. Setelah kebersamaan itu terbentuk, Allah tambahkan petunjuk dan menjaga mereka 309 tahun. Ibn Katsir menyebut kuncinya: _ijtima‘_ dalam iman. Jadi urutannya jelas—kumpul dulu, bina diri bersama, baru pertolongan turun. Bukan sebaliknya.
Sirah Nabawiyah mengonfirmasi pola yang sama. Tiga belas tahun Darul Arqam, sembilan tahun Masjid Nabawi. Para sahabat makan bersama, tidur bersama, belajar dan berjihad bersama. Islam tegak di atas pundak sekelompok kecil yang saling mengenal secara mendalam, bukan dari massa yang hanya mendengar ceramah dari kejauhan. Bahkan perpecahan pasca-Nabi sering kali sumbernya orang berilmu yang merasa lebih berilmu, tetapi tidak berada dalam jamaah yang kuat dan terbina.













