Oleh: Diki Candra Purnama (Ketua Majelis Gaza)
JAKARTA || Bedanews.com – Sejarah Islam berulang pada satu pola yang tak pernah meleset: kemenangan besar selalu lahir dari barisan yang benar-benar hidup bersama, bukan dari kerumunan digital yang hanya akrab di kolom komentar. Sunatullah ini sederhana tetapi berat: Allah menolong _ṣaffan_—barisan rapi, terlatih, dan menyatu hatinya. Maka klaim “berjuang untuk akhir zaman” yang hanya dibangun di atas grup WhatsApp atau channel Telegram, tanpa perjumpaan fisik dan tarbiyah panjang, patut diuji ulang keseriusannya.
Al-Qur’an sudah memberi rambu jelas. _“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka bangunan yang kokoh.”_ (QS. Ash-Shaff: 4). Al-Qurthubi menegaskan: yang ditolong Allah adalah barisan yang terdidik dan teratur. Logikanya masuk akal. Bangunan kokoh tidak berdiri dari batu-batu yang berserakan, apalagi hanya saling menyapa lewat pesan suara. Ia disusun, direkat, diuji tekanannya bersama-sama.













