Juga dalam QS. Al-Hajj ayat 37, Allah menekankan esensi spiritual dari kurban: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…”
Selain itu, Nabi SAW bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari),
Nilai teologis bulan ini menekankan pentingnya ikhlas, ketaatan tanpa syarat, dan penyucian jiwa melalui ibadah yang benar.
Ketiga: Apa Hikmah yang Paling Esensial dari Bulan Dzulhijjah? Hikmah paling esensial dari bulan Dzulhijjah adalah nilai pengorbanan, ikhlas, dan solidaritas sosial. Perintah berkurban tidak hanya soal kepatuhan ritual, tetapi mengajarkan manusia untuk rela berbagi dan tidak melekat pada harta. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) tetapi tidak menyembelih (kurban), maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Hal ini, menunjukkan bahwa kurban bukan hanya tindakan individual, tetapi kewajiban sosial yang menunjukkan empati dan kepedulian. Ibadah haji dan wukuf di Arafah juga menjadi pelajaran spiritual untuk introspeksi, penyucian diri, dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba dari neraka daripada hari Arafah.” (HR. Muslim).













