Menariknya, para peneliti Barat pun menaruh perhatian besar pada dinamika ini. Snouck Hurgronje dalam Mekka in the Latter Part of the 19th Century (Leiden: E.J. Brill, 1931, hlm. 215) menggambarkan betapa gigihnya para pencari ilmu asal Indonesia—yang kerap dijuluki “Jawa”—berguru langsung di serambi Masjidil Haram. Mereka menghapal Kutubut Tis’ah di bawah bimbingan ulama besar, lalu membawa pulang naskah-naskah berharga tersebut ke kampung halaman.
Memasuki awal abad ke-20, dinamika pengajaran hadis mengalami pergeseran struktur secara mendasar. Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (Bandung: Mizan, 1995, hlm. 112) mencatat bagaimana pesantren di Jawa mulai melembagakan pengajaran kitab-kitab standar seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Metode bandongan dan sorogan yang hangat di saung-saung bambu menjadi saksi betapa santri awam diajak menyelami bobot keilmuan yang amat ketat.













