Prinsip-prinsip Nabi—seperti dalam Piagam Madinah yang menekankan keadilan dan kebebasan beragama—sejatinya jadi peta jalan saat masyarakat terpecah.
Mengapa momentum ini relevan? Dalam perayaan Maulid, ada potensi memperkuat kohesi sosial, sebagaimana diungkap Prof. Beihaqi (PB DDI), bahwa kegiatan peringatan ini bisa memperkokoh kerukunan dan keharmonisan jika tidak disalahgunakan untuk agenda politik.
Karena pada saat yang sama, tak jarang perayaan semacam ini justru ditunggangi kelompok politik atau ekstrem—seperti peringatan Maulid yang disusupi aktivis khilafah dengan agenda ideologis terselubung.
Ini ironi tragis yang membuat momentum sebenarnya untuk bersatu malah jadi ajang perpecahan.
*Lalu, apa yang bisa dilakukan?*
Pertama, spirit Maulid harus dikembalikan ke esensi spiritualnya: introspeksi, cinta Nabi tanpa syirik, serta penguatan solidaritas sosial.












