Kecintaan kepada Nabi bukan slogan kosong, tapi ditunjukkan lewat penegakan keadilan dan empati—dua hal yang sangat dibutuhkan ketika demonstrasi menghasilkan gesekan sosial.
Kedua, momentum Maulid bisa jadi sarana pendidikan inklusif. Seperti ditunjukkan di Jepara oleh Az Zahra (2025), perayaan Maulid justru mampu merekatkan solidaritas, menghidupkan semangat kewarganegaraan, serta memperkuat modal sosial berbasis nilai Pancasila.
Kalau semangat ini diarahkan ke demo yang damai—bukan destruktif—hasilnya bisa lebih konstruktif bagi demokrasi.
Ketiga, tokoh agama dan masyarakat harus mengambil sikap tegas: mengajak umat untuk tidak menyalahgunakan momentum keagamaan sebagai alat politik.
Dalam ajakan MUI, diingatkan bahwa Maulid Nabi harus jadi refleksi atas perilaku—bukan ajang kampanye.












