Sebuah sifat ksatria Gus Miftah yang tidak dimiliki oleh Jokowi, yang sekian lama melakukan banyak hinaan kepada kadar intelektualitas yang dimiliki ratusan juta bangsa ini, walau berbalas hinaan dari jutaan netizen publis setiap hari dalam perjalanan saat di tampuk kekuasaannya, akibat bohongnya Jokowi yang transparansi melanggar kontrak sosial (janji politik seorang pemimpin) sebanyak lebih 100 kali.
Namun Jokowi bergeming, malah extra ordinary “menunjukan kepribadian kelas bajing-nya”, __JOKOWI MALAH INGIN MENAMBAH PERIODIK KEPEMIMPINANNYA YANG DIBATASI OLEH KONSITUSI DARI DUA PERIODE MENJADI TIGA PERIODE’.
Lalu, identik dengan perilaku Jokowi, anak biologisnya Gibran pun bagai buah mangga jatuh tak jauh dari pohonnya, Gibran awalnya mengaku S.1 (bahkan S 2?) ternyata de facto riwayat pendidikannya hanya tamatan SMP atau setelahnya diketahui oleh publik biografi pendidikan dilegitimasi oleh kekuasaan (depdiknas) yang lalu menjadi alat KPU RI untuk menerima pendaftaran Gibran menjadi pasangan Wapres pada pemilu pilpres 2024 menjadi naik derajat dari SMP namun turun derajat dari S1, PENDIDIKAN GIBRAN DINYATAKAN SETARA SLA. Walau patut dipertanyakan asas legalitas sistim hukum diknas sehingga ijasah Gibran sah setara SLA. Kemudian darimana bisa didapati legalisir ijasah foto copy nya. Apakah KPU RI dari KPU Surakarta memilikinya? Ini tentunya juga hal yang misterius.












