Temukan Konsep “Ruptur yang Terkelola” dalam Dinamika Tajdid Muhammadiyah
— Narasi umum yang menyebut Muhammadiyah fase awal 1912–1927 hanya bergerak secara tekstual-purifikatif atau bayānī dibantah oleh Maman melalui riset terbaru. Penelitian menyimpulkan gerakan tajdid Muhammadiyah justru dibangun di atas pola epistemologis hibrid sejak masa Ahmad Dahlan.
1.Fase Awal 1912–1927: Sudah Ada Unsur Rasional-Burhānī
Penelitian menemukan karakter epistemologis Muhammadiyah periode awal tidak cukup dijelaskan dengan kategori bayānī tradisional saja. Gerakan ini berjalan dengan pola karismatik-argumentatif yang negosiatif dan performatif. Ahmad Dahlan berdialektika langsung dengan komunitas melalui kekuatan argumentasi.Bukti nyata: penggunaan ilmu falak, argumentasi maṣlaḥah berbasis realitas sosial, dan kritik rasional terhadap praktik keagamaan tanpa dasar normatif. “Dimensi burhānī sebenarnya sudah hadir secara implisit sejak awal, jauh sebelum diformulasikan resmi pasca Munas Tarjih 1995,” bunyi kesimpulan riset. Temuan ini mengoreksi pelabelan tunggal terhadap fase awal Muhammadiyah.













