Pencapaian ini menempatkan Maman sebagai Doktor ke-1.204 yang diluluskan Pascasarjana UIN SGD Bandung. Khusus untuk Bidang Studi Agama-Agama, ia tercatat sebagai Doktor ke-258.
Dosen Ushuluddin yang Visioner
Di luar ruang sidang, Maman dikenal sebagai Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung. Rekan sejawat menyebutnya sebagai sosok pekerja keras yang tidak pernah berhenti belajar.Gelar doktor ini bukan garis finish, melainkan pijakan baru.

Bagi Maman, penelitian tentang tajdid adalah upaya untuk merawat nalar kritis Islam Indonesia agar tetap relevan, kritis, dan solutif menghadapi tantangan modernitas.
“Sukses itu bukan kebetulan. Ia lahir dari kerja keras, dedikasi, dan visi yang jelas,” begitu prinsip yang kini telah ia buktikan sendiri.
Dengan tambahan doktor baru ini, Pascasarjana UIN SGD Bandung kembali menegaskan perannya sebagai rumah lahirnya para intelektual Muslim yang tidak hanya menguasai teks, tetapi juga mampu membaca konteks.
Riset Baru: Muhammadiyah Ternyata Sudah “Rasional” Sejak 1912, Bukan Hanya Tekstual














