Ia juga menyoroti sejumlah paradoks pembangunan nasional, seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil namun belum sepenuhnya menghadirkan pemerataan kesejahteraan, insentif fiskal yang lebih banyak mengalir ke industri padat modal dibanding sektor padat karya, hingga hilirisasi industri yang dinilai belum memberikan efek ganda optimal bagi masyarakat luas.
“Bangsa Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang visioner dan berintegritas agar Reformasi tidak kehilangan arah dan tetap berpijak pada cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Prof. Adang.
Prof. Yuddy: Pertumbuhan Ekonomi Belum Hadirkan Keadilan Sosial
Sementara itu, Prof. Yuddy Chrisnandi memaparkan evaluasi kritis perjalanan Reformasi Indonesia berdasarkan data ekonomi, politik, dan pembangunan nasional.













