Ia menjelaskan bahwa Indonesia memang mengalami kemajuan ekonomi signifikan sejak krisis 1998. Produk Domestik Bruto Indonesia meningkat dari sekitar USD 95 miliar pada 1998 menjadi sekitar USD 1,47 triliun pada 2025. Pendapatan per kapita juga naik dari USD 465 menjadi sekitar USD 5.083.
Namun demikian, menurutnya, capaian ekonomi tersebut belum sepenuhnya diikuti pemerataan kesejahteraan dan penguatan kualitas demokrasi.
“Ketimpangan sosial masih terlihat melalui Koefisien Gini Indonesia yang berada di kisaran 0,375. Selain itu, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia masih bertahan pada angka 34 persen dan menempatkan Indonesia pada peringkat 109 dunia,” ungkapnya.
Prof. Yuddy juga menyoroti tantangan Reformasi yang masih dihadapi Indonesia, mulai dari melemahnya supremasi hukum, menguatnya oligarki politik, praktik politik dinasti, hingga besarnya pengaruh kekuatan modal dalam proses demokrasi.













