Kedua, pengalaman tempur tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh pendidikan atau kursus di dalam negeri. Sebagian besar jenderal Indonesia tidak pernah mengalami langsung pertempuran melawan musuh yang seimbang. Ini bukan aib jika diakui secara jujur. Yang menjadi masalah adalah jika kita bersikap seolah-olah tahu segalanya.
Ketiga, struktur organisasi TNI saat ini perlu dievaluasi ulang. Jumlah perwira tinggi terbilang besar dibandingkan dengan jumlah personel secara keseluruhan. Ini bukan rahasia. Setiap bintang di pundak seharusnya mencerminkan beban tanggung jawab yang sepadan, bukan sekadar beban anggaran.
Konflik Iran-AS menunjukkan bahwa organisasi militer yang lebih ramping, gesit, dan loyal seperti IRGC di Iran seringkali lebih efektif dalam situasi krisis dibandingkan birokrasi militer yang kaku dan gemuk.













