Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad (Penasihat Militer RI untuk PBB 2017-2019)
JAKARTA || Bedanews.com – Sambil menyeruput kopi Liong Bogor, mari kita bedah dengan kepala dingin.
*Ultimatum 24 Jam: Tekanan Psikologis, Bukan Strategi Militer*
Ultimatum Presiden Trump perlu dibaca sebagai tekanan psikologis, bukan doktrin perang. Seorang pemimpin negara adidaya biasanya tidak mengumumkan waktu serangan ke publik jika ia benar-benar berniat menyerang. Pola serupa pernah terjadi terhadap Korea Utara pada 2017 dan Venezuela pada 2019. Nada keras, namun eksekusi tidak pernah terjadi.
Mengapa demikian? Karena menyerang infrastruktur sipil Iran secara sistematis berarti membuka pintu perang total. Dan perang total adalah skenario yang tidak diinginkan siapa pun, termasuk Pentagon sendiri. Di balik publikasi ultimatum, fakta di lapangan menunjukkan adanya negosiasi intensif antara Washington dan Tehran melalui mediator Oman dan Qatar. Ultimatum menjadi alat untuk menekan Iran agar bersedia berunding dengan posisi yang lebih lemah.













