Alih-alih menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi kritik publik, label “paling tolol sedunia” justru memperlihatkan mental defensif. Padahal, sebagaimana dikatakan Fareed Zakaria dalam bukunya The Future of Freedom (2003: 198), demokrasi bukan hanya soal pemilu, tetapi soal akuntabilitas. Ketika wakil rakyat merasa dirinya tak layak dikritik, saat itulah demokrasi pincang sebelah.
Majalah Tempo edisi “Parlemen Tak Terawat” (2016: 42–44) pernah menyoroti rendahnya kepercayaan publik terhadap DPR. Penyebabnya mulai dari absensi tinggi, performa legislasi buruk, hingga gaya hidup hedon para anggotanya. Maka wajar jika sentimen pembubaran DPR muncul dari masyarakat. Bukan karena mereka “tolol”, tetapi karena mereka lelah.
Namun, tindakan massa membakar rumah tentu tak bisa dibenarkan. Negara hukum tak membolehkan kekerasan sebagai bentuk ekspresi. Seperti diingatkan Haris Azhar dalam kolomnya di Kompas (2021: 6), kekerasan atas nama keadilan hanya akan melahirkan lingkar kekerasan baru.













