Meski demikian, reaksi publik ini semestinya dijadikan bahan refleksi, bukan justru menyalakan api lebih besar lewat pernyataan yang emosional. Dalam politik, bahasa itu punya daya. Ia bisa membangun jembatan, atau justru menggali jurang.
Seharusnya, para anggota dewan menyadari, posisi mereka bukan cuma simbol, tetapi amanat. Kata Soe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran (1983: 114), kita sudah muak dengan politik yang tak punya hati. Dan sayangnya, ucapan sang anggota dewan ini seolah menegaskan, hati itu sudah lama pergi dari gedung parlemen.
Kini, setelah rumahnya hangus dan ucapannya jadi bara, haruskah kita bersyukur karena akhirnya ada konsekuensi? Atau justru bersedih karena ini pertanda bahwa ruang dialog sudah habis?
Yang jelas, dalam demokrasi, keberanian untuk berbicara harus diimbangi dengan kebijaksanaan untuk menimbang. Kalau tidak, tragedi lidah bisa jadi bumerang yang membakar, secara harfiah. ***













