“Kami tidak hanya meminta upah!” teriak seorang orator di depan puing kereta. “Kami meminta hak untuk pulang dengan selamat! Kami adalah manusia, bukan sekadar onderdil mesin yang bisa diganti jika rusak dalam kecelakaan!”
Nirmala, yang berhasil diselamatkan namun harus kehilangan fungsi kakinya secara permanen, menatap berita itu dari layar televisi rumah sakit dan melihat fotonya serta Bu Ratna di surat kabar dengan judul besar, “Tragedi Kereta Api: Tumbal Para Pejuang Kehidupan.”
Rel yang Tetap Dingin
Tragedi berdarah perlahan akan memudar dari berita utama, digantikan oleh isu-isu politik baru. Namun bagi para perempuan pekerja, trauma akan menetap permanen seperti bekas luka jahitan di jemari Nirmala.
Rel kereta api itu kini telah dibersihkan. Sisa-sisa darah telah disiram hujan, dan kereta-kereta baru mulai melintas lagi di atas jalur yang sama. Namun, di setiap gerbong ketiga pada jam-jam lembur, akan selalu ada hantu dari masa lalu dengan bisikan para perempuan yang tak pernah sampai ke rumah, yang jiwanya kini bersatu dengan deru mesin dan dinginnya baja.













