Namun, Paudah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan sampah di satuan pendidikan. Di antaranya belum tersedianya modul yang sistematis dan kontekstual sesuai jenjang pendidikan, belum optimalnya integrasi pengelolaan sampah dalam pembelajaran dan budaya sekolah, keterbatasan kapasitas warga satuan pendidikan, serta belum optimalnya keterlibatan mereka sebagai agen perubahan.
Selain itu, pengelolaan sampah di satuan pendidikan juga dinilai masih perlu diarahkan pada pendekatan yang produktif dan memiliki nilai ekonomi.
“Untuk itu, diperlukan modul atau panduan pengelolaan sampah yang inovatif dan produktif untuk jenjang PAUD, pendidikan dasar dan pendidikan menengah,” ungkap Paudah.
Paudah menyampaikan, program peningkatan layanan pengelolaan sampah tersebut akan dilaksanakan di 30 Kabupaten/Kota terpilih sebagai lokasi percontohan, dengan pendekatan lintas jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SMK.













