“Hulu bukan sekadar tempat di mana sampah dihasilkan, melainkan di mana keputusan kita dibuat. Penanganan sampah di hulu bukan tentang bagaimana mengolah sampah yang sudah ada, melainkan bagaimana kita mencegah sampah itu agar tidak pernah tercipta,” jelas Paudah.
Paudah menekankan, perubahan pola pikir menjadi kunci dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Perubahan tersebut dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti membawa tempat minum sendiri, mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai, memilah sampah organik dan anorganik, serta memilih barang yang lebih tahan lama,” imbuh Paudah.
Dalam konteks tersebut, sekolah dinilai menjadi ruang strategis untuk membentuk kebiasaan dan karakter peduli lingkungan sejak dini. Satuan pendidikan tidak hanya menjadi tempat pembelajaran teori, tetapi juga ruang untuk mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan.













