Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Setiap kali membuka media sosial, kita hampir selalu disuguhi berita tragis: perempuan yang depresi akibat cyberbullying, mahasiswi yang memilih mengakhiri hidup setelah menjadi korban kekerasan seksual, hingga ibu muda yang mengalami trauma hebat karena online gender-based violence. Kita kerap menggelengkan kepala, prihatin sebentar, lalu lanjut scrolling. Padahal, di balik layar HP yang dingin itu, ada jiwa-jiwa kekinian yang sedang hancur lebur tanpa kita sadari.
Kekerasan berbasis gender (KBG) bukan lagi sekadar persoalan fisik atau lebam di tubuh. Di zaman yang serba digital ini, luka terberat justru bersarang di dalam kepala: kesehatan mental. Sayangnya, masyarakat kita kerap bersikap apatis. Korban kekerasan malah sering kali disudutkan dengan pertanyaan beracun, “Kenapa pakaianmu begitu?” atau “Kenapa tidak melawan?” Logika menyalahkan korban (victim blaming) ini menunjukkan betapa tumpulnya empati sosial kita.













