Sejarah perang selalu kejam terhadap mereka yang salah membaca prioritas.
Peluru tidak pernah bertanya siapa yang paling populer.
Rudal tidak pernah menghitung jumlah pengikut di media sosial.
Drone tempur tidak pernah mempertimbangkan kedekatan seseorang dengan lingkar kekuasaan.
Perang hanya mengenal satu bahasa: kesiapan.
Negara yang terlalu lama hidup dalam suasana damai sering kali lupa bahwa kemampuan bertempur bukan sesuatu yang bisa dipelajari ketika perang sudah dimulai. Ia dibangun puluhan tahun sebelumnya melalui latihan, pendidikan, pembinaan karakter, inovasi doktrin, dan keberanian berpikir strategis.
Itulah sebabnya negara-negara besar menghabiskan energi luar biasa untuk mencetak pemikir perang, bukan sekadar pengelola organisasi.













