Namun, setiap organisasi pada akhirnya akan mengikuti logika sistem yang dibangunnya sendiri. Jika yang paling sering diapresiasi adalah kemampuan mengelola akses, maka organisasi akan melahirkan pencari akses. Jika yang paling dihargai adalah kemampuan mengelola persepsi, maka organisasi akan memproduksi ahli pencitraan.
Jangan salahkan orangnya. Salahkan metrik keberhasilannya.
Karena manusia selalu bergerak menuju apa yang dihargai oleh sistem.
Di sinilah letak persoalan yang patut direnungkan.
Apakah kita sedang membangun panglima perang, atau sekadar administrator berseragam?
Pertanyaan itu terasa tidak nyaman. Tetapi justru karena tidak nyaman, ia perlu diajukan.
*Perang Tidak Mengenal Elektabilitas*













