Literatur internasional sebenarnya sudah lama mengingatkan hal ini. Paulo Freire dalam “Pedagogy of the Oppressed” (1970: 72–85) mengkritik pendidikan “gaya bank”—di mana siswa hanya menjadi wadah pasif. Dalam tradisi Jerman, Jürgen Habermas melalui “The Theory of Communicative Action” (1981: 310–335) menekankan pentingnya rasionalitas komunikatif—pendidikan harus dialogis, bukan monologis. Sementara itu, dalam konteks Belanda, Gert Biesta dalam “Good Education in an Age of Measurement” (2010: 1–20) mengkritik obsesi pengukuran yang justru menghilangkan esensi pendidikan itu sendiri.
Dalam tradisi Arab-Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas melalui “The Concept of Education in Islam” (1991: 1–15) menegaskan, pendidikan adalah proses penanaman adab—bukan sekadar pengetahuan. Perspektif ini penting: Indonesia tidak kekurangan kurikulum, tetapi kekurangan orientasi nilai.













