Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Setiap 2 Mei, kita kembali khidmat: mengenang Ki Hadjar Dewantara, mengulang jargon “pendidikan memerdekakan”, lalu pulang tanpa benar-benar bertanya—apa yang sebenarnya merdeka dari sistem pendidikan kita hari ini?
Masalahnya bukan pada seremoni, tetapi pada keberanian refleksi. Sebab, jika kita jujur, pendidikan Indonesia hari ini masih sibuk mengatur bentuk, bukan makna.
Dalam banyak kajian, persoalan ini sudah lama dibaca. Anzar Abdullah dalam “Kurikulum Pendidikan di Indonesia Sepanjang Sejarah” (2007: 340–361) menyebut pendidikan kita terjebak dalam “bongkar pasang kurikulum” yang lebih politis daripada filosofis. Itu artinya: perubahan sering terjadi, tapi arah jarang jelas.













