Padahal, sejak awal Ki Hadjar menekankan pendidikan sebagai proses pembentukan manusia merdeka. Dalam bukunya “Menuju Manusia Merdeka” (2019: 12–25), pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembebasan kesadaran. Namun hari ini, pendidikan justru sering menjadi mekanisme seleksi sosial—siapa cepat, dia lolos.
Lebih jauh, refleksi kontemporer menunjukkan paradoks yang mengkhawatirkan. Maman Paturahman (2023) menegaskan, semangat nasionalisme generasi muda justru melemah di tengah arus globalisasi, sehingga pendidikan harus kembali menjadi ruang penanaman nilai kebangsaan. Tetapi bagaimana mungkin nasionalisme tumbuh jika sekolah hanya menjadi pabrik angka?
Di titik ini, kita perlu jujur: Hardiknas sering berubah menjadi nostalgia, bukan evaluasi.













