Namun anehnya, pemerintah tetap bersikukuh untuk melakukan impor beras dan pangan lainnya. Padahal baru saja menggaungkan slogan “cinta produk dalam negeri dan benci produk luar negeri”. Lalu mengapa harus impor?
Alasan pemerintah terkait ‘impor beras hanya sebagai stok Bulog’ sama sekali tidak logis. Karena pada kenyataannya produksi beras lebih dari cukup, bahkan untuk stok cadangan Bulog sekalipun. Maka kebijakan impor ini jelas adalah bagian dari sistem ekonomi kapitalisme yang keji.
Sistem ekonomi kapitalis sekuler mewajibkan Indonesia tunduk pada ketentuan perdagangan bebas yang telah ditetapkan oleh WTO (World Trade Organization). Tanpa peduli bahwa kebijakan impor yang dianggap mudah, cepat dan praktis itu berdampak negatif terhadap para petani dan produsen pangan dalam negeri lainnya. Petani akan mudah kehilangan kepercayaan diri, karena tidak didukung oleh negara untuk memproduksi beras dalam negeri. Otomatis akan lebih banyak lagi petani yang melakukan alih fungsi lahan, dan permasalahan pangan negeri ini akan bertambah parah.













