Satu kalimat yang mudah-mudahan sampai ke telinga para pengambil kebijakan di negeri kita:
“Kebuntuan yang rapuh bukanlah perdamaian. Jeda yang kosong bukanlah kemenangan. Dan selama kita hanya menonton tanpa bersiap, maka kita akan menjadi korbanbukan karena ikut berperang, tapi karena lalai membaca waktu.”
*Kesimpulan*
Gencatan senjata sepihak Trump adalah ilusi. Diplomasi kurir Iran adalah taktik untuk mengulur waktu. Dan Putin menjadi tujuan akhir karena Rusia telah membuktikan diri sebagai teman yang actionable memberi data intelijen, membantu peretasan, bahkan menilai kerusakan setelah serangan.
Saya tutup tulisan ini dengan satu kalimat yang mungkin keras, tapi harus dikatakan:
“Perang bukan hanya tentang siapa yang menembak lebih dulu. Perang modern adalah tentang siapa yang punya intelijen lebih baik, siapa yang punya amunisi lebih banyak, dan siapa yang punya sekutu lebih setia. Dan saat ini, Iran dengan Putin di belakangnya memiliki semuanya. Pertanyaannya: apakah Indonesia akan terus menonton, atau akhirnya belajar menjadi pemain?” ***













