*Jadi di mana Indonesia dalam semua ini?*
Dengan jujur, saat ini kita masih menjadi penonton. Bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita belum sadar bahwa dampak kebuntuan ini sudah sampai ke dapur kita. Harga minyak dunia naik. Nilai tukar rupiah tertekan. Inflasi mulai merangkak. Dan jika kebuntuan ini berlanjut tiga bulan lagi, kita bisa menghadapi krisis energi dan ekonomi yang tidak ringan.
Saya tidak mengatakan ini untuk menakut-nakuti. Saya mengatakan ini karena panggilan tugas sebagai mantan penasihat militer untuk membaca tanda-tanda bahaya lebih awal. Dan saat ini, tanda-tanda itu sudah ada di depan mata. Yang kita perlukan bukan lagi analisis. Yang kita perlukan adalah kejujuran politik untuk mengakui bahwa status quo ini tidak bisa bertahan selamanya.













