Lalu bagaimana dengan Rusia? Di sinilah alarm harus berbunyi keras.
Ketika AS dan Iran berputar-putar di Islamabad tanpa hasil, Menlu Iran justru terbang ke Moskow dan duduk berjam-jam bersama Putin. Bukan untuk membahas gencatan senjata, saudara-saudara. Mereka membahas perang. Saya ulang: perang yang sedang berlangsung, bukan perdamaian yang diimpikan.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, saya sudah sampaikan bahwa satelit Rusia secara aktif membantu Iran. Peretas Rusia dan Iran berkolaborasi di Telegram untuk melumpuhkan infrastruktur Teluk.
Maka mari kita tarik skenario paling mungkin ke depan sesuai peta yang ada:
Pertama yang paling mungkin terjadi dalam 30 hingga 60 hari ke depan: kebuntuan berlanjut. Gencatan senjata diperpanjang lagi, mungkin dengan gembar-gembor media bahwa “perdamaian sudah di depan mata”. Tapi di belakang layar, tidak ada yang berubah. Kurir tetap bolak-balik membawa tuntutan yang sama. Blokade tetap berlangsung. Harga minyak tetap tinggi. Dan rakyat kecil di Gaza, di Lebanon, di Yaman, bahkan di Indonesia terus membayar harga mahal untuk kebuntuan ini.













