• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » Edy Sayudi Dorong Demak 2045 Jadi Pelaku Ekonomi Global, UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Industri

Edy Sayudi Dorong Demak 2045 Jadi Pelaku Ekonomi Global, UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Industri

Asep Budi by Asep Budi
12 Oktober 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

DEMAK || Bedanews.com — Kabupaten Demak perlu mengubah arah pembangunan dari sekadar penyedia tenaga kerja menjadi daerah yang mampu melahirkan pengusaha, mengembangkan inovasi, serta mengambil peran dalam rantai ekonomi nasional dan global. Penguatan sumber daya manusia (SDM), pemanfaatan teknologi dan integrasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan industri dinilai menjadi kunci mewujudkan visi Demak 2045.

Gagasan tersebut disampaikan Edy Sayudi, ST, MH, selaku Pengusaha, sekaligus Sekretaris Jenderal (Sekjen) Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN), dalam forum Daring *Rembuk Bintoro* bertajuk “Demak 2045: Dari Penyedia Tenaga Kerja Menjadi Pelaku Ekonomi Global”, yang diadakan Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) dengan mengundang seluruh masyarakat Demak dimanapun berada, juga Perantauan dan umum, Minggu (11/10) pukul 19.30-21.00 Wib.

Dalam pemaparannya, Edy menekankan bahwa, pembangunan daerah tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur, kawasan industri dan masuknya investasi. Pembangunan juga harus mampu meningkatkan kualitas manusia, memperluas kesempatan kerja, menumbuhkan usaha lokal, serta menciptakan nilai tambah ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat Demak.

BeritaTerkait

Anggota BPK HM. Fathan Subchi Berpulang, Membawa Duka Mendalam bagi Keluarga dan Sahabat, Serta Masyarakat

25 Oktober 2026

Siapa Lagi Terancam OTT, Eisti, Agustin atau Ngesti

25 Oktober 2026

“Pertanyaan besarnya bukan hanya apa yang akan kita bangun, tetapi setelah itu dibangun, Demak mau menjadi apa? Siapa yang akan menikmati nilai ekonomi dari pembangunan tersebut?” demikian inti pemikiran Edy dalam materi tersebut.

*Investasi Harus Menggerakkan Ekonomi Lokal*

Edy menilai, Demak telah memiliki modal ekonomi berupa tenaga kerja, sektor pertanian, UMKM dan perkembangan kawasan industri. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas potensi tersebut agar masyarakat tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga mampu menjadi pengusaha, inovator dan pencipta lapangan kerja.

Masuknya industri besar belum tentu memberikan manfaat ekonomi secara optimal apabila sebagian besar kebutuhan perusahaan masih dipasok dari luar daerah. Kondisi serupa dapat terjadi ketika pendapatan pekerja lebih banyak dibelanjakan di luar Demak.

Karena itu, investasi perlu diikuti pembangunan ekosistem ekonomi lokal yang menghubungkan industri, UMKM, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, perbankan dan masyarakat.

Industri dapat menjadi pasar potensial bagi pelaku usaha lokal melalui kebutuhan katering, transportasi, laundry, seragam, pengemasan, percetakan, pemeliharaan mesin, logistik, hingga layanan digital.

Edy mendorong agar kebutuhan tersebut dipetakan, sehingga pengusaha lokal memiliki kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok industri. Dengan begitu, pertumbuhan perusahaan tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga membuka pasar bagi usaha lokal, meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat perputaran uang di daerah.

*SDM Harus Siap Menghadapi Teknologi dan AI*

Transformasi ekonomi Demak juga membutuhkan peningkatan kompetensi SDM agar mampu menghadapi perubahan teknologi dan persaingan global.

Menurut Edy, persaingan usaha saat ini tidak lagi cukup mengandalkan harga murah. Kemampuan beradaptasi, membaca data, membangun merek, memanfaatkan pemasaran digital, serta menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga perlu dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk riset pasar, pembuatan konten, analisis penjualan, administrasi, pemahaman perilaku pelanggan, hingga perencanaan usaha.

Ia menilai, pemanfaatan teknologi tidak boleh hanya dinikmati perusahaan besar. UMKM juga perlu memperoleh akses dan kemampuan untuk menggunakannya demi memperluas jangkauan pasar serta meningkatkan efisiensi usaha.

Namun, pemanfaatan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan manusia. Pendidikan dan pelatihan kerja perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri sekaligus membekali masyarakat dengan keterampilan kewirausahaan.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan calon pekerja, tetapi juga tenaga profesional yang kompeten, pengusaha inovatif dan pencipta lapangan kerja.

*UMKM Tak Cukup Dibantu, Harus Punya Akses Pasar*

Penguatan UMKM menjadi salah satu agenda penting dalam mewujudkan Demak 2045. Edy berpandangan bahwa, dukungan permodalan tetap diperlukan, tetapi belum cukup apabila tidak disertai peningkatan kapasitas usaha dan akses pasar.

UMKM perlu didorong memperbaiki pembukuan, melakukan digitalisasi, memenuhi standardisasi dan sertifikasi yang dibutuhkan, memperkuat merek, serta meningkatkan kualitas produk dan layanan.

Akses pembiayaan juga harus berjalan beriringan dengan akses pasar. Produk yang berkualitas akan sulit berkembang apabila tidak memiliki jalur pemasaran yang memadai.

Oleh sebab itu, kemitraan dengan industri dapat menjadi salah satu jalan bagi UMKM untuk meningkatkan skala usahanya. Keterlibatan dalam rantai pasok perusahaan berpotensi membuka peluang kontrak usaha, memperluas jaringan pelanggan, serta mendorong pelaku usaha lokal memenuhi standar yang lebih tinggi.

Dalam jangka panjang, penguatan UMKM diharapkan mampu memperluas sumber pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada lapangan kerja formal semata.

*Pemerintah Harus Menjadi Penghubung*

Untuk mewujudkan ekosistem tersebut, Edy mendorong pemerintah daerah berperan sebagai pengarah dan penghubung antarpemangku kepentingan, bukan menjadi pelaku seluruh kegiatan ekonomi.

Pemerintah dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan lembaga pendidikan dan pelatihan, sekaligus menghubungkan UMKM dengan peluang pengadaan barang dan jasa perusahaan.

Ketika industri membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu, lembaga pendidikan dan pelatihan dapat menyiapkan keterampilan yang relevan. Sementara itu, kebutuhan perusahaan yang masih dipenuhi pemasok dari luar daerah dapat dipetakan sebagai peluang pengembangan usaha lokal.

Pendekatan tersebut membutuhkan koordinasi berkelanjutan agar investasi, pendidikan, pelatihan kerja, pembiayaan dan pengembangan UMKM berjalan dalam arah yang sama.

Keberhasilan pembangunan ekonomi daerah juga perlu diukur melalui indikator yang jelas, seperti peningkatan keterlibatan tenaga kerja lokal, jumlah UMKM yang masuk rantai pasok industri, pertumbuhan usaha, produktivitas, serta nilai tambah yang tercipta di Demak.

*Giant Sea Wall Perlu Diikuti Desain Ekonomi*

Dalam perspektif pembangunan jangka panjang, Edy turut menyoroti pentingnya perencanaan ekonomi yang menyertai pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa.

Ia tidak menitikberatkan pembahasan pada aspek teknis konstruksi, melainkan pada peluang ekonomi yang dapat dikembangkan apabila infrastruktur tersebut terealisasi.

Menurutnya, infrastruktur perlindungan kawasan pesisir merupakan faktor pendukung pembangunan. Namun, keberadaan infrastruktur saja tidak otomatis menciptakan kesejahteraan apabila tidak disertai perencanaan pemanfaatan ruang, investasi, pengembangan industri dan pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, Demak perlu memiliki arah pengembangan ekonomi yang jelas, mulai dari jenis kegiatan ekonomi yang akan dikembangkan, peluang investasi, keterlibatan UMKM, penciptaan lapangan kerja, hingga manfaat ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat setempat.

“Infrastruktur adalah enabler, tetapi ekonomi adalah ekosistem,” demikian menjadi salah satu pesan utama dalam gagasannya mengenai arah pembangunan Demak.

Ia juga menyoroti pengembangan Sayung sebagai kawasan perkotaan. Menurutnya, perencanaan kawasan tidak cukup hanya dengan memperluas bangunan, tetapi perlu memperhatikan fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, pusat perdagangan dan jasa, ruang publik, perumahan, serta sistem transportasi.

Dengan perencanaan yang terintegrasi, pengembangan kawasan diharapkan tidak hanya meningkatkan pembangunan fisik, tetapi juga membentuk pusat pertumbuhan ekonomi yang mendukung kebutuhan masyarakat.

*Bekerja, Berusaha dan Belanja di Demak*

Edy menilai, visi Demak 2045 perlu diarahkan pada terbentuknya ekonomi daerah yang produktif, inovatif dan saling terhubung.

SDM yang kompeten diharapkan mampu mendorong tumbuhnya lapangan kerja dan kewirausahaan. Industri dan UMKM kemudian memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas serta memperluas akses ke pasar nasional dan global.

Semua itu membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, perbankan dan masyarakat.

Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah memperkuat kebiasaan bekerja, berusaha, berproduksi dan berbelanja di Demak. Dengan semakin banyak kebutuhan masyarakat dan industri yang dipenuhi oleh pelaku usaha lokal, perputaran ekonomi di daerah diharapkan semakin kuat.

Menurutnya, keberhasilan Demak menuju 2045 bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya investasi atau infrastruktur yang dibangun, melainkan juga oleh kemampuan masyarakat mengambil bagian dalam pertumbuhan tersebut.

Demak diharapkan tidak hanya menjadi tempat industri beroperasi dan tenaga kerja tersedia, tetapi juga menjadi daerah yang melahirkan pengusaha inovatif, UMKM berdaya saing, tenaga kerja berkualitas, serta produk yang mampu menembus pasar lebih luas.

“Dengan demikian, masyarakat Demak bukan sekadar menjadi penonton pertumbuhan ekonomi, melainkan pelaku yang turut menciptakan dan menikmati nilai tambah pembangunan di daerahnya sendiri,” pungkasnya. (Red).

Previous Post

HM Fathan Subchi Dorong Rembuk Bintoro, Lahirkan Solusi Konkret untuk Demak

Next Post

H. Abdullah Taqwim: Demak Jadi Sentra Pertanian Nasional, Pasar Harus Dibangun Sebelum Petani Menanam

Related Posts

Ragam

Anggota BPK HM. Fathan Subchi Berpulang, Membawa Duka Mendalam bagi Keluarga dan Sahabat, Serta Masyarakat

25 Oktober 2026
Ragam

Siapa Lagi Terancam OTT, Eisti, Agustin atau Ngesti

25 Oktober 2026
Ragam

Kepala Daerah di Jawa Tengah, Akankah KPK Terus Melakukan OTT

25 Oktober 2026
Ragam

Fenomena “Ora Nduwe Isin” dan Senyum Pepesan Kosong Kemunafikan

25 Oktober 2026
Ragam

RSUD Doris Sylvanus Supervisi Layanan Jantung di RSUD Kapuas, Perkuat Kesiapan Operasional CathLab

25 Oktober 2026
Ragam

Rakernas FWK, Gubernur Lemhannas Ingatkan Pentingnya Pers Kritis dan Independen Dalam Menyebarkan Nilai-nilai Kebangsaan

25 Oktober 2026
Next Post

H. Abdullah Taqwim: Demak Jadi Sentra Pertanian Nasional, Pasar Harus Dibangun Sebelum Petani Menanam

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021