• DISCLAIMER
  • PEDOMAN MEDIA CYBER
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • Contact Us
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Bedanews
Advertisement
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
  • TNI-POLRI
  • Headline
  • Ragam
  • News
  • Politik
  • Edukasi
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Karya
  • Profil
No Result
View All Result
Bedanews
No Result
View All Result

Home » H. Abdullah Taqwim: Demak Jadi Sentra Pertanian Nasional, Pasar Harus Dibangun Sebelum Petani Menanam

H. Abdullah Taqwim: Demak Jadi Sentra Pertanian Nasional, Pasar Harus Dibangun Sebelum Petani Menanam

Asep Budi by Asep Budi
12 Oktober 2026
in Ragam
0
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

 

JAKARTA || Bedanews.com — Kabupaten Demak dinilai memiliki peluang untuk memperkuat perekonomian daerah melalui pengembangan pertanian modern yang terhubung langsung dengan jaringan perdagangan nasional. Salah satu langkah yang ditawarkan adalah membangun sistem produksi berbasis kebutuhan pasar, sehingga petani tidak lagi menghadapi ketidakpastian pembeli ketika memasuki masa panen.

Gagasan tersebut disampaikan H. Abdullah Taqwim, Pemerhati Peluang Usaha, sekaligus Wakil Ketua Umum Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN), dalam pemikirannya mengenai arah strategis ekonomi Demak untuk 10 tahun ke depan dengan menitikberatkan pada penguatan rantai pasok pertanian, hilirisasi dan perluasan akses pasar.

Gagasan itu disampaikan pada forum Daring *Rembuk Bintoro* yang diadakan Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) dengan mengundang seluruh masyarakat Demak dimanapun berada, juga Perantauan dan umum, Minggu (11/10) pukul 19.30-21.00 Wib.

BeritaTerkait

Anggota BPK HM. Fathan Subchi Berpulang, Membawa Duka Mendalam bagi Keluarga dan Sahabat, Serta Masyarakat

25 Oktober 2026

Siapa Lagi Terancam OTT, Eisti, Agustin atau Ngesti

25 Oktober 2026

H. Taqwim yang sehari-hari berkecimpung dalam perdagangan komoditas pertanian di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, melihat adanya peluang untuk menghubungkan petani Demak dengan jaringan perdagangan di Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya.

Pengalamannya dalam memasarkan berbagai komoditas, seperti mangga, semangka, buah naga, jambu dan buah-buahan lainnya, menjadi salah satu modal untuk mengembangkan pola kemitraan antara produsen dan pelaku pasar.

Menurutnya, pengembangan pertanian tidak cukup hanya dengan meningkatkan luas tanam dan volume produksi. Perencanaan harus dimulai dari identifikasi kebutuhan pasar, standar kualitas, volume permintaan, hingga kepastian jalur distribusi.

“Jangan meminta petani menanam sebanyak-banyaknya sebelum kita tahu siapa yang akan membeli. Kita bangun pasarnya, kita tentukan kebutuhannya, kemudian kita ajak petani menanam sesuai kebutuhan tersebut,” demikian gagasan Abdullah Taqwim dalam mendorong penguatan sektor pertanian Demak.

*Petani Menanam Sesuai Kebutuhan Pasar*

Selama ini, salah satu tantangan dalam usaha pertanian adalah ketidaksesuaian antara produksi dan permintaan. Petani menanam berdasarkan kebiasaan atau perkiraan, sementara kepastian pembeli dan harga baru dicari ketika hasil panen sudah tersedia.

Pola tersebut, menurutnya, perlu diubah melalui sistem produksi berbasis pasar. Tahapannya dimulai dari pemetaan permintaan komoditas, penentuan volume dan kualitas, kesepakatan dengan calon pembeli, pelaksanaan budidaya, hingga penyerapan hasil panen.

Dengan pendekatan itu, petani diharapkan memiliki gambaran lebih jelas mengenai komoditas yang akan dibudidayakan, standar yang harus dipenuhi, serta jalur pemasaran yang dapat diakses.

Meski demikian, kepastian pembelian tetap perlu dibangun melalui kesepakatan kemitraan yang jelas, termasuk mengenai harga atau mekanisme penetapannya, standar mutu, volume, jadwal pengiriman, dan pembagian risiko apabila terjadi perubahan kondisi pasar.

*Demak Berpeluang Mengembangkan Klaster Komoditas*

H. Taqwim juga mengusulkan, agar pengembangan pertanian Demak dilakukan melalui pembentukan klaster komoditas berdasarkan kesesuaian lahan, kondisi agroklimat, kemampuan produksi petani, dan kebutuhan pasar.

Sejumlah komoditas yang dapat dikaji antara lain mangga, semangka, buah naga, jambu, serta berbagai produk hortikultura lainnya.

Penentuan komoditas unggulan tidak perlu dilakukan secara serentak di seluruh wilayah. Setiap komoditas perlu melalui kajian teknis dan perhitungan usaha agar pengembangannya sesuai dengan kondisi setempat serta memiliki peluang pemasaran yang memadai.

Melalui pendekatan klaster, pembinaan petani, penyediaan sarana produksi, pengawasan kualitas, pengumpulan hasil panen dan distribusi dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.

Langkah tersebut diharapkan dapat membangun konsistensi pasokan, yang menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pedagang besar dan jaringan distribusi dalam menjalin kemitraan dengan sentra produksi.

*Jaringan Pasar Menjadi Modal Pengembangan*

Salah satu aspek yang ditawarkan H. Taqwim adalah, pemanfaatan jaringan perdagangan yang telah beroperasi di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur dan pasar-pasar lain di kota besar.

Jaringan tersebut memiliki pengalaman dalam membaca kebutuhan konsumen, menentukan standar kualitas, mengelola distribusi, serta memasarkan komoditas dalam jumlah besar.

H. Taqwim menilai, jejaring pelaku perdagangan dapat menjadi pintu masuk bagi produk pertanian Demak untuk menjangkau pasar yang lebih luas, sepanjang produksi mampu memenuhi persyaratan volume, mutu, kontinuitas, dan harga yang kompetitif.

Peluang itu juga tidak hanya bergantung pada satu pelaku usaha. Kemitraan dapat diperluas dengan melibatkan pedagang, distributor, pemasok, dan calon pembeli lain yang memiliki jaringan pemasaran berbeda.

Namun, pengembangan pasar tetap membutuhkan perhitungan biaya logistik, penanganan pascapanen, risiko kerusakan produk, dan fluktuasi harga. Karena itu, pengujian pasar secara bertahap menjadi bagian penting sebelum produksi diperluas.

*Hilirisasi Dimulai Sejak Proses Produksi*

Dalam pandangannya, hilirisasi pertanian tidak semata-mata berarti membangun pabrik pengolahan. Proses tersebut harus dimulai sejak pemilihan bibit, budidaya, panen, sortasi, pengelompokan kualitas (grading), pengemasan (packing), penyimpanan, hingga distribusi ke pasar.

Rantai pasok yang terintegrasi memungkinkan hasil pertanian memiliki penanganan yang lebih baik sebelum sampai kepada konsumen. Produk dengan kualitas berbeda juga dapat diarahkan ke segmen pasar yang sesuai, termasuk peluang pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah.

Pengembangan fasilitas penyimpanan, tempat pengumpulan hasil panen, sarana pengemasan, dan distribusi menjadi bagian yang perlu diperhitungkan dalam membangun sistem tersebut.

Dengan demikian, petani tidak bekerja sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem usaha yang menghubungkan produksi dengan perdagangan dan industri pengolahan.

*Kemitraan Menjadi Kunci*

Model pengembangan yang ditawarkan melibatkan petani, pendamping teknis, pelaku pasar, distributor, lembaga perbankan atau penyedia pembiayaan, serta pemerintah daerah.

Dalam pola tersebut, petani berfokus pada produksi dengan dukungan pendampingan budidaya. Pelaku pasar menyampaikan informasi kebutuhan konsumen dan standar komoditas, sedangkan distributor berperan dalam pengumpulan serta pengiriman hasil panen.

Sementara itu, pemerintah daerah dapat mendukung melalui kebijakan, infrastruktur pertanian, akses informasi, fasilitasi kemitraan dan pengembangan kapasitas petani.

Dukungan pembiayaan juga perlu disesuaikan dengan siklus usaha pertanian. Skema pendanaan yang tepat dapat membantu petani memenuhi kebutuhan modal kerja tanpa menimbulkan beban yang tidak sebanding dengan kemampuan usahanya.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi tawar petani sekaligus menciptakan hubungan bisnis yang saling menguntungkan.

*Dimulai dari Proyek Percontohan*

Pihaknya mendorong, agar gagasan pengembangan pertanian berbasis pasar dimulai melalui proyek percontohan atau pilot project dalam skala terbatas.

Tahap awal dapat dilakukan dengan menentukan satu komoditas, memilih wilayah berdasarkan kesesuaian lahan, mengidentifikasi petani peserta, menetapkan target produksi, serta menjajaki calon pembeli sebelum penanaman dilakukan.

Selanjutnya, pelaksana program perlu menyusun standar kualitas, jadwal panen, mekanisme pengumpulan, fasilitas pengemasan, dan skema distribusi. Hasil pelaksanaan kemudian dievaluasi berdasarkan produktivitas, biaya produksi, tingkat penyerapan pasar, pendapatan petani, serta keberlanjutan kemitraan.

Apabila model tersebut terbukti berjalan baik, pengembangan dapat diperluas ke wilayah dan komoditas lain.

Prinsip yang ditekankan adalah memulai dalam skala kecil, membuktikan hasil, melakukan pengukuran, mengevaluasi kekurangan, kemudian memperluas program berdasarkan data dan pengalaman lapangan.

*Lima Arah Strategis Ekonomi Demak*

Lebih luas, dikatakan, memandang pengembangan pertanian sebagai bagian dari agenda transformasi ekonomi Demak untuk 10 tahun ke depan. Upaya tersebut perlu berjalan bersama lima arah strategis pembangunan ekonomi daerah.

– Pertama, pertanian modern, melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas, proyek percontohan dan penguatan pascapanen serta pemasaran.
– Kedua, ekonomi pesisir, dengan mendorong adaptasi terhadap banjir rob, peningkatan produktivitas tambak dan perikanan, pelestarian mangrove, serta kajian pengembangan energi terbarukan yang sesuai dengan kondisi daerah.
– Ketiga, hilirisasi dan industri, melalui pengolahan hasil pertanian, perikanan, tambak dan produk UMKM agar memiliki nilai tambah lebih tinggi. Penguatan kemasan, merek, dan industri pengolahan menjadi bagian dari upaya tersebut.
– Keempat, perdagangan dan logistik, dengan mengembangkan fasilitas gudang, penyimpanan dingin (cold storage), pusat distribusi, digitalisasi perdagangan, serta memperkuat konektivitas perdagangan Demak dengan Semarang, Kudus, Jepara dan wilayah pemasaran lainnya.
– Kelima, pengembangan SDM dan digitalisasi, melalui peningkatan keterampilan generasi muda serta pemanfaatan teknologi oleh petani, nelayan, pedagang, dan pelaku UMKM. Pelaksanaannya memerlukan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.
– Keenam, arah tersebut diharapkan saling mendukung sehingga potensi daerah tidak berhenti sebagai sumber bahan mentah, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah dan lapangan kerja.

*Peta Jalan Menuju 2036*

Untuk pelaksanaannya, gagasan pengembangan ekonomi Demak dibagi ke dalam tiga tahapan.

Periode 2026–2028 diarahkan untuk membangun fondasi dan menjalankan proyek percontohan. Tahap 2029–2031 difokuskan pada perluasan program yang telah terbukti berjalan baik. Selanjutnya, periode 2032–2036 diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi Demak yang lebih terintegrasi.

Tahapan tersebut membutuhkan indikator keberhasilan yang terukur, mulai dari peningkatan produktivitas, volume penjualan, nilai tambah produk, jumlah petani yang terlibat, pendapatan masyarakat, hingga pertumbuhan lapangan kerja.

Evaluasi berkala diperlukan agar program yang tidak berjalan sesuai sasaran dapat diperbaiki, sementara model yang menunjukkan hasil positif dapat dikembangkan lebih luas.

*Membangun Rantai Bisnis yang Nyata*

Baginya, tujuan akhirnya bukan sekadar menjadikan Demak sebagai daerah penghasil komoditas pertanian, melainkan membangun sentra produksi yang terhubung langsung dengan pasar nasional.

Ketersediaan jaringan perdagangan dapat menjadi salah satu modal awal. Namun, keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan membangun produksi yang konsisten, memenuhi standar pasar, mengelola distribusi, serta memastikan kemitraan memberikan manfaat bagi petani dan pelaku usaha.

“Kalau petani Demak kuat produksinya dan jaringan pasar kuat menyerapnya, maka hilirisasi pertanian bukan lagi sekadar gagasan, tetapi bisa menjadi sebuah rantai bisnis yang nyata,” demikian pesan yang menjadi landasan pemikiran pengembangan ekonomi tersebut.

Melalui langkah bertahap dan berbasis kebutuhan pasar, Demak memiliki peluang untuk memperkuat sektor pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Red).

Previous Post

Edy Sayudi Dorong Demak 2045 Jadi Pelaku Ekonomi Global, UMKM Harus Masuk Rantai Pasok Industri

Next Post

Prof Hanif Nurcholis: Demak Harus Beranjak dari Penanganan Bencana ke Pemulihan Ekonomi Rakyat

Related Posts

Ragam

Anggota BPK HM. Fathan Subchi Berpulang, Membawa Duka Mendalam bagi Keluarga dan Sahabat, Serta Masyarakat

25 Oktober 2026
Ragam

Siapa Lagi Terancam OTT, Eisti, Agustin atau Ngesti

25 Oktober 2026
Ragam

Kepala Daerah di Jawa Tengah, Akankah KPK Terus Melakukan OTT

25 Oktober 2026
Ragam

Fenomena “Ora Nduwe Isin” dan Senyum Pepesan Kosong Kemunafikan

25 Oktober 2026
Ragam

RSUD Doris Sylvanus Supervisi Layanan Jantung di RSUD Kapuas, Perkuat Kesiapan Operasional CathLab

25 Oktober 2026
Ragam

Rakernas FWK, Gubernur Lemhannas Ingatkan Pentingnya Pers Kritis dan Independen Dalam Menyebarkan Nilai-nilai Kebangsaan

25 Oktober 2026
Next Post

Prof Hanif Nurcholis: Demak Harus Beranjak dari Penanganan Bencana ke Pemulihan Ekonomi Rakyat

JDIH DPRD Kota Cimahi

LPKL

BEDA Itu pilihan

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA

MFC - Bedanews.com © 2021

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result

MFC - Bedanews.com © 2021