Ketua Umum PDBN yang juga Anggota VI BPK RI tekankan penanganan rob, penguatan ekonomi dan pengembangan potensi lokal
DEMAK || Bedanews.com — HM. Fathan Subchi, Ketua Umum Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN) yang juga menjabat Anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, mendorong agar forum Rembuk Bintoro tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi mampu melahirkan solusi konkret dan program yang dapat diimplementasikan untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan di Kabupaten Demak.
Dalam sambutannya pada forum diskusi daring *Rembuk Bintoro* , yang diadakan Paguyuban Demak Bintoro Nusantara (PDBN), Minggu (11/10/2026), Fathan mengapresiasi inisiatif penyelenggaraan diskusi yang mempertemukan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, praktisi, tokoh masyarakat, hingga diaspora Demak.
Menurutnya, forum tersebut menjadi langkah awal untuk mengubah gagasan-gagasan besar yang selama ini berkembang dalam ruang diskusi menjadi pemikiran yang lebih terarah dan berujung pada tindakan nyata.
Fathan menilai, tema yang diangkat sangat relevan dengan persoalan mendasar yang telah lama dihadapi masyarakat Demak, khususnya bencana rob yang berdampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Ia mengungkapkan, saat masih bertugas di Komisi V DPR, dirinya pernah membawa rombongan DPR untuk meninjau persoalan rob di wilayah Sayung dan sekitarnya. Namun, hingga kini, persoalan tersebut belum sepenuhnya menemukan penyelesaian yang memberikan hasil menggembirakan bagi masyarakat.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan komprehensif untuk menangani rob, termasuk menghadirkan solusi yang mampu melindungi masyarakat agar tidak kehilangan tanah dan terus-menerus menanggung dampak persoalan tersebut.
“Kita membutuhkan pemecahan masalah yang komprehensif, disertai solusi konkret agar masyarakat tidak kehilangan tanah dan tidak terus-menerus mengalami penderitaan akibat persoalan yang berkepanjangan,” demikian pokok penekanan Fathan dalam sambutannya.
*Dorong Diskusi Lebih Spesifik dan Implementatif*
Fathan berharap, Rembuk Bintoro menjadi forum berkelanjutan dengan pembahasan yang semakin spesifik, operasional, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, diskusi yang bersifat umum tetap diperlukan sebagai landasan untuk membangun pemahaman bersama. Namun, forum berikutnya perlu diarahkan pada persoalan yang lebih terperinci agar gagasan yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi program nyata.
Ia mencontohkan, pembahasan dapat difokuskan pada pengembangan potensi unggulan di masing-masing wilayah, seperti komoditas bawang, melon, semangka, serta sektor usaha lainnya yang memiliki peluang meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pelibatan praktisi dan pengusaha yang memahami bidang terkait juga dinilai penting agar pembahasan tidak berhenti pada tataran konsep, melainkan menghasilkan alternatif pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan potensi daerah.
*Pengangguran, Kemiskinan dan Daya Saing Industri*
Selain persoalan rob, Fathan menyoroti sejumlah tantangan pembangunan yang perlu mendapatkan perhatian bersama, mulai dari pengangguran, kemiskinan, keterbatasan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), hingga tantangan perkembangan sektor industri.
Menurutnya, Demak perlu memperkuat daya saing agar mampu mengembangkan potensi ekonomi daerah dan tidak tertinggal dari kabupaten lain di sekitarnya.
Ia mencontohkan, keberadaan kawasan industri di Kendal dan Batang sebagai bahan refleksi bagi Demak untuk menggali peluang pengembangan sektor industri yang sesuai dengan karakteristik, sumber daya, serta kebutuhan masyarakat setempat.
Fathan juga mendorong agar Demak mampu mengoptimalkan peluang pengembangan ekonomi sebagaimana daerah lain, termasuk Kudus dan Jepara.
Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan perencanaan matang, kolaborasi lintas sektor, serta keberanian mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang produktif.
Pertumbuhan ekonomi, kata dia, semestinya tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui terbukanya lapangan kerja, berkurangnya kemiskinan, meningkatnya pendapatan, dan menguatnya kemandirian ekonomi daerah.
*Ajak Diaspora Berkontribusi untuk Demak*
Fathan turut mengapresiasi partisipasi para narasumber dan peserta dari berbagai latar belakang. Ia memandang keterlibatan akademisi, rektor, praktisi, guru besar, tokoh masyarakat, serta diaspora Demak sebagai modal penting untuk memperkuat kontribusi bagi kampung halaman.
Menurutnya, jarak geografis tidak seharusnya menjadi penghalang bagi warga Demak untuk terus berkontribusi terhadap pembangunan daerah asal.
Silaturahmi dan komunikasi yang terbangun melalui PDBN diharapkan dapat mempertemukan pengalaman, keahlian, jejaring dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan Demak.
Fathan berharap, semangat kebersamaan tersebut terus dipelihara melalui kegiatan diskusi yang berkesinambungan dan pembahasan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Ia mengingatkan pentingnya menjadikan kebermanfaatan sebagai landasan dalam setiap bentuk pengabdian.
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” menjadi pesan yang ditekankan Fathan dalam mengajak seluruh elemen masyarakat berkontribusi bagi daerah.
“Melalui Rembuk Bintoro, PDBN diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemikiran, pengalaman dan potensi berbagai kalangan agar menghasilkan gagasan yang lebih terarah serta dapat ditindaklanjuti untuk menjawab tantangan pembangunan Kabupaten Demak,” pungkasnya. (Red).













