*Dari Coverage Menuju Accessibility*
Palembang juga perlu mengoreksi cara membaca cakupan pelayanan. Sebuah kawasan dapat terlihat terlayani di peta karena dilalui feeder atau berada dekat stasiun. Namun akses itu belum tentu nyata bagi pengguna. Jalan menuju halte mungkin tidak nyaman. Penyeberangan kurang aman. Informasi kedatangan tidak tersedia. Jarak perpindahan antarmoda terlalu jauh. Atau feeder tidak datang ketika penumpang membutuhkannya. Karena itu coverage harus berubah menjadi effective accessibility.
Pertanyaan kebijakan bukan sekadar berapa kilometer rute yang tersedia, melainkan: Berapa persen warga Palembang dapat mencapai pusat pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kota dengan angkutan umum dalam waktu yang kompetitif? Ini mengubah cara pemerintah melihat trotoar, feeder, halte, penyeberangan, sepeda, serta fasilitas drop-off.













