*Dari Infrastruktur Menuju Budaya*
Palembang sebenarnya berada dalam posisi yang sangat strategis. Banyak kota masih membicarakan kapan memiliki angkutan berbasis rel. Palembang sudah memilikinya. Karena itu tantangan berikutnya bukan membangun kebanggaan terhadap LRT, tetapi menjadikan investasi tersebut benar-benar produktif bagi kota.
Transformasinya harus bergerak:
Infrastructure → Integration → Accessibility → Competitiveness → Modal Shift → Transit-Oriented City → Mobility Culture.
Ukuran keberhasilan akhirnya bukan seberapa megah stasiunnya atau berapa banyak feeder yang dioperasikan. Ukurlah dari berapa banyak masyarakat yang sebenarnya mempunyai sepeda motor atau mobil, tetapi memilih meninggalkannya karena angkutan umum memang lebih masuk akal. Ketika pilihan tersebut mulai terjadi setiap hari, transportasi umum tidak lagi menjadi sekadar program pemerintah. Ia berubah menjadi kebiasaan masyarakat. Dan ketika kebiasaan itu tumbuh menjadi budaya, Palembang bukan hanya akan dikenal sebagai salah satu kota pertama di luar Jawa yang memiliki LRT. Palembang dapat menjadi contoh bagaimana sebuah kota mengubah investasi transportasi menjadi transformasi mobilitas. (Red).













