Pertama, redesign jaringan berdasarkan data origin-destination. Feeder harus mengikuti kebutuhan perjalanan nyata, bukan semata batas administratif atau rute historis.
Kedua, sinkronkan feeder dengan jadwal LRT. Waktu tunggu harus diperlakukan sebagai indikator kinerja utama.
Ketiga, bangun satu sistem informasi perjalanan yang menghubungkan LRT, bus, feeder, tarif, jadwal, dan informasi waktu nyata.
Keempat, perkuat first-last mile melalui trotoar, penyeberangan aman, halte berkualitas, feeder lingkungan, serta akses universal.
Kelima, jadikan stasiun sebagai mobility hub dan pusat TOD, bukan hanya tempat naik-turun penumpang.
Keenam, ubah subsidi menjadi performance-based subsidy yang dikaitkan dengan penumpang, reliability, efisiensi, kepuasan, dan modal shift.
Ketujuh, satukan tata kelola mobilitas. Pemkot Palembang, Pemprov Sumatera Selatan, Kementerian Perhubungan, BPKARSS, operator LRT, operator bus dan feeder harus bekerja berdasarkan satu integrated urban mobility plan.













