Pemerintah sebenarnya telah bergerak ke arah ini. Pada 2025 Palembang menambah koridor feeder, termasuk layanan Asrama Haji–Talang Betutu. Dokumen resmi pemerintah kota pada tahun yang sama juga menyebut Palembang telah memiliki LRT, layanan BTS Teman Bus pada dua koridor, serta delapan koridor angkot feeder LRT Musi Emas. Ini merupakan modal penting. Tetapi banyaknya koridor tidak otomatis berarti jaringan telah efektif.
Pertanyaannya harus lebih tajam apakah feeder melewati asal perjalanan masyarakat? Apakah waktu kedatangannya terhubung dengan jadwal LRT? Apakah perpindahan moda nyaman? Apakah perjalanan secara keseluruhan lebih cepat daripada menggunakan sepeda motor? Jika jawabannya belum, maka masalahnya bukan lagi jumlah armada, tetapi desain jaringan.













