Di Indonesia, akar sejarah perlawanan ini sangat mendalam. Sebagaimana dicatat oleh pakar sejarah Indonesia asal Belanda, Harry A. Poeze, dalam buku monumental Tan Malaka, Strijder voor Indonesië’s Vrijheid (Leiden: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, 1988, hlm. 82), pemuda dan mahasiswa selalu menjadi katalis dalam momentum penentuan arah bangsa sejak fajar pergerakan nasional. Tradisi perlawanan intelektual ini juga menemukan padanannya dalam pemikiran filsuf Timur Tengah, Malik Bennabi. Dalam karya terbesarnya Syurut al-Nahdah (Kairo: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1960, hlm. 45), Bennabi menegaskan bahwa kebangkitan suatu peradaban tidak diukur dari kemewahan infrastrukturnya, melainkan dari kesadaran kritis (al-wa’y al-tanqidi) pemudanya terhadap kezaliman dan stagnasi sosial.













