Bertutur tentang pergerakan mahasiswa, sejarah dunia memang kerap ditulis oleh rasa frustrasi anak muda. Dalam analisis klasik ilmu politik Political Order in Changing Societies (New Haven: Yale University Press, 1968, hlm. 210), Samuel P. Huntington mencatat bahwa demonstrasi mahasiswa adalah sinyal paling gamblang dari kerapuhan kelembagaan politik suatu negara. Ketika partai politik kehilangan fungsi artikulasinya, mahasiswa mengambil alih peran sebagai pengawal moral.
Namun, mengabaikan ketajaman analisis sosiologis di balik aksi massa ini adalah sebuah kekeliruan besar. Sosiolog Jerman Jürgen Habermas dalam karyanya Strukturwandel der Öffentlichkeit (Neuwied: Hermann Luchterhand Verlag, 1962, hlm. 154) menekankan pentingnya ruang publik (Öffentlichkeit) tempat warga negara berdiskusi secara rasional tanpa intimidasi. Ketika ruang publik digital dialihkan menjadi arena manipulasi persepsi dan parlemen dipenuhi kompromi elit, demonstrasi di jalanan adalah bentuk pembentukan ruang publik tandingan (counter-public sphere) yang terpaksa diambil.













