Oleh: Dr. (C.) K.H.M. Rofik Mualimin, Lc., M.Pd.I.
YOGYAKARTA || Bedanews.com – Langkah kaki itu ritmis, diiringi ketukan tongkat yang sesekali menghantam aspal panas. Di barisan paling depan, seorang mahasiswa berjaket almamater kusam menggenggam megapon. Suaranya serak, tetapi matanya menyala. Di belakangnya, ribuan anak muda bergerak bukan karena imbauan presensi dosen, melainkan karena rasa keadilan yang terusik. Lanskap politik bangsa hari ini sedang tidak baik-baik saja; ada riak ketidakpuasan yang membentur dinding-dinding kekuasaan.
Melihat fenomena gelombang demonstrasi mahasiswa belakangan ini, kita seperti sedang menyaksikan sejarah yang berulang dalam siklus yang lelah. Bangsa ini seolah terjebak dalam alur cerita lama: ketika saluran aspirasi formal tersumbat oleh oligarki dan nepotisme, jalanan menjadi ruang kelas terakhir untuk menyampaikan kebenaran.













