Yang lebih menarik, klaim ini muncul bukan saat momentum kemenangan, tapi ketika warisan kekuasaan mulai diperdebatkan. Di sinilah aroma kepentingannya terasa kuat, bukan sekadar mengingat masa lalu, tapi mengamankan posisi dalam narasi sejarah politik.
Sementara itu, respons Jokowi yang santai dengan mengatakan,“ saya ini orang kampung”, terdengar seperti sindiran halus yang justru lebih menohok. Tanpa perlu berdebat, ia seakan berkata, kalau memang kekuasaan bisa “dibuat,” kenapa tidak semua elite berhasil melakukannya?
Pertanyaan itu sederhana, tapi mematikan.
Sebab faktanya, banyak yang punya akses, punya jaringan, punya sumber daya, tapi gagal. Jokowi justru menjadi presiden karena berhasil melampaui itu semua, ia tidak hanya “didukung,” tapi diterima.













