JAKARTA || Bedanews.com – Kalau mendengar pernyataan Jusuf Kalla (JK), publik bisa saja bertanya dengan nada setengah serius, sejak kapan Indonesia punya “pabrik presiden”?
Sebab logika yang dibangun sangat menggelikan: seolah-olah Joko Widodo (Jokowi) bukan dipilih rakyat, melainkan “diproduksi” oleh segelintir elite dengan resep rahasia politik.
Jika benar demikian, mungkin ke depan kita tak perlu lagi pemilu. Cukup duduk manis, tunggu keputusan para “arsitek kekuasaan,” lalu rakyat tinggal tepuk tangan.
Ironis? Jelas. Tapi itulah implikasi dari klaim semacam ini.
Pernyataan JK terdengar seperti upaya menulis ulang sejarah dengan dirinya sebagai tokoh utama dan rakyat hanya figuran pelengkap. Padahal dalam demokrasi, justru rakyatlah penulis naskahnya.













