“Wasitna kumaha ieu?”
Padahal pelanggarannya jelas terlihat. Tetapi dalam pertandingan besar, mata pendukung tidak lagi biologis. Mata berubah menjadi lembaga banding. Kalau pemain sendiri jatuh, itu pelanggaran. Kalau pemain lawan jatuh, itu sandiwara. Kalau bola kena tangan lawan, penalti. Kalau kena tangan sendiri, itu takdir.
Di lapangan, para pemain berlari mengejar bola. Di luar lapangan, jutaan orang mengejar ketenangan batin yang tidak pernah sampai. Setiap tendangan sudut seperti ujian akhir semester. Setiap serangan balik membuat jantung melakukan simulasi gempa. Kalau bola mendekati gawang, seluruh tubuh otomatis berdiri, meskipun sebelumnya sedang makan bala-bala.
Gol adalah ledakan kosmis. Jika Persib mencetak gol, Bandung seakan punya matahari tambahan. Orang yang tidak saling kenal tiba-tiba berpelukan. Tukang cilok digendong. Helm dipukul-pukul. Ada yang sujud syukur, ada yang berlari keliling gang, ada pula yang langsung menulis status: “Alhamdulillah, masih ada keadilan di muka bumi.”













