“Mun eleh kumaha?” tanya seseorang.
Pertanyaan itu langsung membuat udara diam. Sendok berhenti di tengah jalan. Kopi kehilangan uap. Gorengan seperti merenungkan nasib bangsa.
“Ulah ngomong kitu,” jawab yang lain. “Pertanyaan kitu the, bisa membuat statistik cidera mental meningkat.”
Menjelang pertandingan, televisi menjadi benda paling suci di rumah. Remote diamankan seperti dokumen negara. Anak kecil dilarang mengganti channel kartun. Ibu-ibu yang biasanya berkuasa atas sinetron sementara mundur secara konstitusional, meskipun dengan catatan: “Mun éléh, tong ngambek ka piring.”
Begitu peluit pertama berbunyi, semua manusia berubah. Yang biasanya santun mendadak menjadi komentator dengan nada tinggi. Operan salah sedikit langsung dianggap pengkhianatan terhadap peradaban. Pemain terpeleset dianggap bagian dari konspirasi rumput. Wasit meniup peluit, seisi ruangan ikut meniup emosi.













