Tetapi kalau grup lain menyerang, suasana berubah menjadi pengajian darurat. Semua do’a keluar, dari yang hafal sampai yang setengah hafal. Ada yang membaca istighfar, ada yang membaca susunan pemain sambil membaca “jangjawokan” dan kaki menggebrak bumi tiga kali.
Pertandingan Persib itu aneh. Satu bola ditendang oleh dua puluh dua orang, tetapi yang masuk angin bisa satu propinsi. Bermain sembilan puluh menit, tapi susah tidurnya bisa tiga hari. Pemain, mendapat kartu kuning, tapi yang tekanan darahnya naik, semua bobotoh.
Namun justru di situlah keindahannya. Sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Ia adalah cara manusia belajar mencintai sesuatu dengan riang, tegang, kadang berlebihan, tetapi tetap manusiawi. Rivalitas boleh panas, suara boleh keras, tetapi akal sehat jangan ikut cedera hamstring.













