Dalam Al-Nawawi – Syarḥ Ṣaḥiḥ Muslim, dijelaskan dalam hadits Nabi ﷺ: “Lam yabqa min Al-Nubuwwah illa al-mubashshirat.” (“Tidak tersisa dari kenabian kecuali kabar gembira.”) (HR. Bukharī, Muslim).
Al-Nawawī berkata: “Mubashshirat adalah mimpi yang benar. Ia bisa menjadi petunjuk ilahiyyah bagi umat, khususnya ketika zaman penuh kegelapan. Dan jika ia datang dari banyak orang saleh dengan arah makna yang sama, maka itu bentuk ta’aḍud al-bayyinat (penguatan bukti).” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, juz 15, h. 25).
Yang jadi masalah, bagaimana konsep kesahihan mimpi dalam Islam sebagai sumber petunjuk? Siapakah figur Al-Mahdi, Putra Bani Tamim, dan Al-Mansyur menurut nash-nash syar’i dan turats? Bagaimana juga pola kemunculan ru’ya akhir zaman memperlihatkan kesahihan ruhani tiga figur ini? Dan bagaimana mekanisme ilahi dalam penyebaran mubasyirāt kolektif sebagai bentuk tajalli huda?












