Menurut Landasan Teologis tentang Petunjuk Ilahi melalui Mimpi (Mubasyirāt) adalah
Dalam konteks akhir zaman, banyaknya mimpi yang dialami banyak orang tentang tokoh-tokoh yang akan muncul, baik Al-Mahdi, Putra Bani Tamim atau Al-Manshur, bukan fenomena yang harus diabaikan, melainkan harus menjadi indikator ruhani bahwa Allah sedang menggerakkan kesadaran kolektif umat terhadap janji kenabian.
Dalam tradisi Islam, mimpi yang benar menempati posisi penting sebagai salah satu bentuk wahyu non-tasyri‘ yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Nabi ﷺ bersabda: “Mimpi yang benar adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian. (HR. Al-Bukhari, no. 6989; Muslim, no. 4200).
Para ulama, seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mimpi yang benar tetap menjadi salah satu jalan ilham dan petunjuk bagi umat setelah terputusnya wahyu kenabian.












